Sabtu, 12 Maret 2022

Tugas 3.1.a.10. Aksi Nyata - Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

Tugas 3.1.a.10.  Aksi Nyata - Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran 

Oleh : Ilah Armilah, S. E.
Guru SMP Islam Ibnu Rusyd Kotabumi
CGP Angkatan 3 Kabupaten Lampung Utara
PP : Apridayani, S. Pd.       
 Fasilitator : Suharyanto, M. Pd.

1. Peristiwa (Facts)

     a. Latar Belakang

        Semenjak masa pandemi terjadi kegiatan pembelajaran di SMP Islam Ibnu Rusyd Kotabumi berulangkali  mengalami pergantian  dari Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau Belajar Dari  Rumah (BDR) hingga  Pertemuan Tatap Muka (PTM) Terbatas dengan cara shift. Selama PJJ, tingkat partisipasi murid dalam pengerjaan tugas-tugas masih rendah  ditambah  saat PTM  tidak semua murid masuk sekolah sesuai jadwal shift PTM dan  mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru.

        Saat PTM terbatas berlangsung di sekolah, ternyata bukan hanya murid yang tidak masuk sekolah tetapi juga guru. Selalu ada saja guru yang berhalangan hadir dalam setiap pekannya. Hal yang cukup menarik terjadi ketika  guru yang berhalangan hadir tidak memberikan tugas. Ruangan kelas menjadi ramai, murid-murid sibuk sendiri di dalam kelas  bahkan seringkali  mereka menggunakan waktu kosongnya di luar kelas untuk makan minum, nyanyi-nyanyi atau sekedar berkumpul  dan  mengobrol. Yang jelas, Hampir tidak  ada yang membuka buku pelajaran  di saat jam kosong dan aktivitas mereka terkadang mengganggu kelas sebelah.


 


 



  
      b. Alasan Melakukan Aksi

Kondisi pada saat jam kosong menjadi dilema etika bagi sekolah, membiarkan murid dengan aktivitasnya atau tetap belajar bersama guru yang lain ? . Karena selama PTM Terbatas kegiatan KBM tidak diberikan waktu istirahat sehingga   membuat murid-murid bosan belajar meskipun jam sekolah lebih pendek. Kerinduan bermain dengan teman sekolah yang selama masa pandemi tidak terakomodasi, bisa tersalurkan meski sekedar mengobrol di kelas.  

    c. Hasil Aksi Nyata

Mengisi jam kosong bersama guru piket atau guru pengganti baik diisi dengan materi pelajaran dan tugas dari guru yang berhalangan atau mengisinya dengan kegiatan lain yang bermakna, seperti kegiatan  literasi  atau mungkin bisa menghilangkan kejenuhan suasana belajar dan memfasilitasi keinginan peserta didik untuk mengobrol namun tetap dalam kegiatan pembelajaran (diskusi). Pilihan tema bisa disesuaikan dengan materi pelajaran di jam kosong atau melakukan kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan karakter atau Pendidikan keterampilan hidup (PKH). 




2. Perasaan (Feelings)

Saya merasa sangat bersemangat untuk  melaksanakan kegiatan tersebut yaitu mengisi jam kosong dengan berbagai aktivitas sekaligus optimalisasi peran  guru piket atau guru pengganti di saat jam kosong. Harapannya,  guru piket/guru pengganti bisa mengisi ketidakhadiran guru mapel dan peserta didik terpenuhi kebutuhan mendapatkan pendidikan. Pendidikan di sini diartikan dalam cakupan yang luas, bukan hanya belajar di kelas atau membaca buku paket. Siapapun guru piket/guru penggantinya bisa melakukan aktivitas tanpa memaksakan diri harus mengajar materi yang bukan bidang / keahliannya.Murid-murid dapat terawasi, jam kosong diisi oleh kegiatan yang bermakna, dan tidak mengganggu kelas lain.

3. Pembelajaran (Findings)

Selama ini jika ada guru yang berhalangan masuk kelas akan memberikan tugas melalui pesan di WhatsApp Grup atau melalaui guru piket. Guru piket akan memberikan materi sesuai amanah guru yang berhalangan, meskipun mapel itu bukan bidangnya. Terkadang guru hanya menitipkan tugas ke guru piket dan guru piket akan memanggil ketua kelas untuk mengambil tugasnya. Sehingga tugas ketua kelas menjadi lebih berat karena harus mengawasi teman-temannya  sekaligus mengerjakan tugas. 

Dengan pengamatan, evaluasi, dan kolaborasi  dengan semua pihak terkait di sekolah saya bisa mengetahui permasalahan di jam kosong. Saya  mencoba mencari solusi atas permasalahan yang ada dengan tetap mengakomodasi kebutuhan belajar dan pendidikan  peserta didik bersama guru piket/ guru pengganti.

Pembelajaran yang didapatkan bahwa mengambilan keputusan dengan mempertimbangkan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. 

 4. Penerapan ke depan (Future)

Kegiatan /aktivitas pengisi jam kosong  akan dilakukan   sesuai kadar kesanggupan guru piket/pengganti dan murid-murid.   Dan peran guru piket / guru pengganti  di saat jam kosong juga  bisa dilaksanakan dengan baik karena sudah dilakukan perencanaan, penggorganisasian, pelaksanaan kegiatan, dan tetap disupervisi. Sehingga  kegiatan ini dapat dilihat dan diukur keberhasilannya. Jika ada kekurangan kita bisa melakukan perbaikan atau mencari solusi lain yang lebih baik. 

 

    

Berdiskusi dengan rekan sejawat bisa dilakukan di mana pun dan kapanpun untuk kemajuan pendidikan dan pembelajaran yang berpihak pada murid.


Terima kasih.


Minggu, 20 Februari 2022

3.1.a.9. Koneksi Antar Materi-Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

Koneksi Antar Materi - Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran 

Oleh : Ilah Armilah, S. E.

Guru SMP Islam Ibnu Rusyd Kotabumi
CGP Angkatan 3 Kabupaten Lampung Utara
PP : Apridayani, S. Pd.
Fasilitator : Suharyanto, M.Pd.

“Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik”(Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best).  Bob Talbert

Bagi saya, kutipan ini memiliki makna yang sangat dalam, dimana bagi saya yang memeluk agama Islam apa yang berharga bagi saya dan keluarga adalah terkait Aqidah dan akhlaq(karakter). Dalam aqidah agama Islam tercakup masalah akhlaq atau perilaku. Pembentukan perilaku baik perlu dilakukan berdasarkan pada keyakinan dan kebenaran. Terkadang perilaku bisa saja baik namun tidak benar. Seperti dalam pengambilan keputusan Dilema etika atau bujukan moral, kita memahami bahawa dalam bujukan moral mungkin perilaku kita adalah baik namun melakukan sebuah hal yang salah tentu tidak bisa dibenarkan. Sehingga ketika mendapati seorang anak melakukan kecurangan saat ujian sekolah, kita akan memberikan konsekuaensi apapun bujukan atau alasan yang disampaikan anak kepada kita, karena kita tahu bahwa melakukan kecurangan saat ujian adalah hal yang salah meskipun tujuannya benar untuk mendapatkan nilai bagus.










  • Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?
Pratap Triloka yang diusung oleh Ki Hadjar Dewantara yaitu :
1. Ing ngarsa sung tuladha yang bermakna seorang guru menjadi teladan bagi murid-muridnya.
2. Ing madya mangun karsa yang bermakna seorang guru menjalin komunikasi yang baik dengan murid
3. Tut wuri handayani yang memiliki makna peran guru untuk memotivasi serta mendorong murid-muridnya untuk berkembang sesuai kodrat dan potensi yang dimiliki.

Dalam kaitannya dengan pengambilan keputusan, Pratap Triloka akan memberi pengaruh kepada seorang guru ketika mengambil keputusan. A[pakah keputusan yang diambilnya sudah baik, benar, dan tepat serta bermanfaat bagi  semua? Meskipun mungkin tidak akan semua kepentingan dapat difasilitasi melalui keputusan yang kita ambil, tapi setidaknya sudah mewakili kepentingan mayoritas. Sebagai seseorang yang memberi teladan guru harus mampu mengambil keputusan yang tepat dan bikasana, mampu mengkomunikasikan keputusan yang telah diambilnya kepada murid-murid dan mampu membuat keputusan yang dapat memotivasi/mendorong muriid menjadi insan yang dapat mengembangkan potensi dirinya menjadi manusia yang berkarakter dan  bermanfaat bagi kebaikan umat.
  • Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Nilai yang tertanam pada diri kita tentu saja akan memberi warna dan pengaruh pada setiap keputusan yang kita ambil. Sebagai seorang muslim, nilai -nilai yang terkandung dalam ajaran agama Islam tentu akan menjadi pijakan utama bagi saya dalam mengambil keputusan , setelah itu saya akan memperhitungkan nilai-nilai kebajikan universal dan  kebermanfaatannya.
Sebagai seorang calon guru penggerak, saya juga  memegang nilai - nilai guru penggerak yaitu : Mandiri, reflekstif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid. Karena pada prinsipnya nilai-nilai ini sejalan dengan keyakinan yang saya pegang, maka pengambilan keputusan akan diambil dengan mempertimbangkan nilai-nilai ini juga. 
  • Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan 'coaching' (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi 'coaching' yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.

Ketika kita menemukan sebuah situasi pada peserta didik atau rekan sejawat, yang membutuhkan pengambilan keputusan baik kita bisa melakukan peran kita sebagai pembantu mereka menemukan permalahan dan solusi atas masalah yang sedang mereka hadapi melalui
Coaching yang kita lakukan padanya diantaranya dengan model TIRTA. sembilan langkah pengambilan keputusan dapat kita aplikasikan ketika mengecek kembali apakah keputusan yang diambil sudah tepat? ( langkah pengambilan keputusan yang dimaksud adalah :
  1. Mengenali bahwa ada  nilai-nilai yang saling bertentangan.
  2. Menentukan  siapa saja  yang terlibat dalam situasi tersebut.
  3. Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dalam situasi tersebut. 
  4. Pengujian Benar atau Salah , dalam hal ini dapat dilakukan menggunakan uji legal, uji regulasi atau standar profesional, uji intuisi, uji halaman depan koran, dan uji panutan/idola.
  5. Pengujian  paradigma benar lawan benar.
  6. Melakukan prinsip resolusi.
  7. Investigasi opsi trilema.
  8. Buat keputusan.
  9. Lihat keputusan dan refleksikan.

3.1.a.7. Demontrasi Kontekstual -Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran 

Oleh : Ilah Armilah, S. E.

Guru SMP Islam Ibnu Rusyd Kotabumi
CGP Angkatan 3 Kabupaten Lampung Utara
PP : Apridayani, S. Pd.
Fasilitator : Suharyanto, M.Pd.

        Sebagai seorang pemimpin pembelajaran yang berpihak pada murid, kita pasti sering dihadapkan dalam situasi di mana kita diharuskan mengambil suatu keputusan. pemikiran-pemikiran apa saja yang kita jadikan dasar dalam pengambilan keputusan? Apakah keputusan kita sudah sesuai dengan aturan? Apakah keputusan yang telah kita ambil memberikan rasa nyaman dan tenang atau bahkan membuat diri kita menjadi gelisah dan tidak tenang? Jika kita memposisikan idola kita pada kondisi tersebut, kira-kira keputusan apa yang akan diambilnya, apakah sama dengan keputusan yang telah kita ambil?  Pertanyaan-pertanyaan tersebut  menjadi pemicu dalam mempelajari Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran. 

             Sekolah sebagai lembaga formal tempat anak-anak bangsa mendapatkan pendidikan baik ilmu pengetahuan, agama, maupun moral memiliki peran penting dalam membentuk karakter para warganya.  Sebagai seorang pemimpin di sekolah terkadang harus berhadapan dengan  situasi di mana harus mengambil keputusan yang mengandung dilema etika (ethical dilemma).

            Namun terkadang kita juga terjebak pada situasi yang membuat  kita bingung harus mengambil keputusan yang bagaimana agar keputusan tidak merugikan, berpihak pada anak, mengandung unsur-unsur kebajikan universal, dan dapat dipertangguingjawabkan. Agar tidak salah dalam mengambil keputusan, ada baiknya kita mengenali situasi yang terjadi apakah termasuk dalam dilema etika ataukah hanya sekedar bujukan moral? Jika memang hanya bujukan moral ada baiknya kita tinggalkan. Namun jika itu termasuk dalam dilema etika, kita harus lebih dalam dan jauh lagi memikirkannya sebelum mengambil keputusan. 

 

 Apa Perbedaan dilema etika dengan bujukan moral ?

 

 



 

Dilema etika (ethical dilemma) merupakan situasi yang terjadi ketikaseseorang harus memilih antara dua pilihan di mana kedua pilihan secara moral adalah benar tetapi bertentangan, sedangkan bujukan moral  merupakan situasi yang terjadi ketika seseorang harus membuat keputusan di antara dua pilihan benar atau salah.

    

 

 

 4 Paradigma Dilema Etika

Secara Umum ada 4 paradigma yang terjadi pada situasi dilema etika, yaitu :

1. Individu lawan masyarakat (individual vs community) 

2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy) 

3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty) 

4. Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)  

3 Prinsip Pengambilan Keputusan

 Dilema etika seringkali membuat kita merasa sulit untuk mengambil keputusan. Keputusan yang akan kita ambil pada umumnya didasarkan pada tiga prinsip pengambilan keputusan, yaitu : 

1. Berfikir Berbasisi Hasil Akhir (Ends Based Thingking)

2. Berfikir Berbasis Peraturan (Rules Based Thingking)

3. Berfikir Berbasis Rasa Peduli (Cares Based Thingking)

 Selanjutnya, saya akan menjawab beberapa pertanyaan yang menjadi panduan dalam Tugas 3.1.a.7

1. Bagaimana Anda nanti akan mentransfer dan menerapkan pengetahuan yang Anda dapatkan di program guru penggerak ini di sekolah/lingkungan asal Anda?

Saya akan mentransfer dan menerapkan pengetahuan yang saya dapatkan di Program Pendidikan Guru Penggerak ini baik di lingkungan sekolah kepada murid dan rekan kerja atau komunitas praktisi di lingkungan sekolah.

 2. Apa langkah-langkah awal yang akan Anda lakukan untuk memulai mengambil keputusan berdasarkan pemimpin pembelajaran?.

  • 1. Memetakan permasalahan apa yang sedang atu telah terjadi di sekolah, baik di dalam kelas maupun sekolah pada umumnya.
  • 2. Merumuskan langkah-langkah penyelesaian masalah yang akan saya ambil
  • 3. Melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait di sekolah , seperti wali kelas, waka, ataupun kepala sekolah. 

 3. Mulai kapan Anda akan menerapkan langkah-langkah tersebut, hari ini, besok, minggu depan, hari apa? Catat rencana Anda, sehingga Anda tidak lupa.

Di mulai hari ini, tanggal 19 Februari 2022.  Dengan rencana :

Ketika menemukan permasalahan di peserta didik ataupun rekan kerja, saya akan coba mengidentifikasi permasalahannya atau mengidentifikasi situasinya bagaimana ,  baik terkait kegiatan pembelajaran ataupun mungkin permasalahan pribadi.

Saya akan mencoba mengimplementasikan  9 Langkah Pengambilan dan Pengujian Keputusan dalam menganalisis permasalahan/situasi yang ada agar dapat menemukan solusi yang terbaik atas permasalahan/situasi yang terjadi.  Kesembilan langkah tersebut adalah sebagai berikut : 

    1. Mengenali bahwa ada  nilai-nilai yang saling bertentangan.
    2. Menentukan  siapa saja  yang terlibat dalam situasi tersebut.
    3. Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dalam situasi tersebut. 
    4. Pengujian Benar atau Salah , dalam hal ini dapat dilakukan menggunakan uji legal, uji regulasi atau standar profesional, uji intuisi, uji halaman depan koran, dan uji panutan/idola.
    5. Pengujian  paradigma benar lawan benar.
    6. Melakukan prinsip resolusi.
    7. Investigasi opsi trilema.
    8. Buat keputusan.
    9. Lihat keputusan dan refleksikan.
4. Siapa yang akan menjadi pendamping anda, dalam menjalankan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran? Seseorang yang akan menjadi teman diskusi Anda untuk menentukan langkah-langkah yang anda ambil telah tepat dan efektif. 
1. Suami saya

2. Rekan sejawat

3. Waka

4. Kepala Sekolah

5. Pengajar Praktik saya

    


 Terima Kasih.......

 

 

Minggu, 07 November 2021

Pembelajaran Berdiferensiasi

 Pembelajaran Berdiferensiasi

oleh : Ilah Armilah,S.E.

Guru di SMP Islam Ibnu Rusyd Kotabumi
CGP Angkatan 3 Kabupaten Lampung Utara
Fasilitator : Suharyanto,M.Pd. 
PP : Apridayani,S.Pd.

A. Pengertian Pembelajaran Berdiferensiasi

    

Menurut Tomlinson (2001: 45), Pembelajaran Berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid. 

Namun demikian, pembelajaran berdiferensiasi bukanlah berarti bahwa guru harus mengajar dengan 32 cara yang berbeda untuk mengajar 32 orang murid. Bukan pula berarti bahwa guru harus memperbanyak jumlah soal untuk murid yang lebih cepat bekerja dibandingkan yang lain. Pembelajaran berdiferensiasi juga bukan berarti guru harus mengelompokkan yang pintar dengan yang pintar dan yang kurang dengan yang kurang. Bukan pula memberikan tugas yang berbeda untuk setiap anak. Pembelajaran berdiferensiasi bukanlah sebuah proses pembelajaran yang semrawut (chaotic), yang gurunya kemudian harus membuat beberapa perencanaan pembelajaran sekaligus, di mana guru harus berlari ke sana kemari untuk membantu si A, si B atau si C dalam waktu yang bersamaan. Bukan. Guru tentunya bukanlah malaikat bersayap atau Superman yang bisa ke sana kemari untuk berada di tempat yang berbeda-beda dalam satu waktu dan memecahkan semua permasalahan.

Lalu seperti apa sebenarnya pembelajaran berdiferensiasi?

Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Keputusan-keputusan yang dibuat tersebut adalah yang terkait dengan:

  1. Kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas. Jadi bukan hanya guru yang perlu jelas dengan tujuan pembelajaran, namun juga muridnya.
  2. Bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar muridnya. Bagaimana ia akan menyesuaikan rencana pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar murid tersebut. Misalnya, apakah ia perlu menggunakan sumber yang berbeda, cara yang berbeda, dan penugasan serta penilaian yang berbeda.
  3. Bagaimana mereka menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi. Kemudian juga memastikan setiap murid di kelasnya tahu bahwa akan selalu ada dukungan untuk mereka di sepanjang prosesnya.
  4. Manajemen kelas yang efektif. Bagaimana guru menciptakan prosedur, rutinitas, metode yang memungkinkan adanya fleksibilitas. Namun juga struktur yang jelas, sehingga walaupun mungkin melakukan kegiatan yang berbeda, kelas tetap dapat berjalan secara efektif.
  5. Penilaian berkelanjutan. Bagaimana guru tersebut menggunakan informasi yang didapatkan dari proses penilaian formatif yang telah dilakukan, untuk dapat menentukan murid mana yang masih ketinggalan, atau sebaliknya, murid mana yang sudah lebih dulu mencapai tujuan belajar yang ditetapkan.
Yang perlu digarisbawahi adalah 
Pembelajaran berdiferensiasi haruslah berakar pada pemenuhan kebutuhan belajar murid dan bagaimana guru merespon kebutuhan belajar tersebut.

        Tomlinson (2001) dalam bukunya yang berjudul How to Differentiate Instruction in Mixed Ability Classroom menyampaikan bahwa kita dapat mengkategorikan kebutuhan belajar murid, paling tidak berdasarkan 3 aspek. 

Ketiga aspek tersebut adalah:

  1. Kesiapan belajar (readiness) murid
  2. Minat murid
  3. Profil belajar murid

Kamis, 04 November 2021

Aksi Nyata Budaya Positif di SMP Islam Ibnu Rusyd Kotabumi

Rancangan Tindakan Untuk Aksi nyata

MODUL BUDAYA POSITIF

KEBERSIHAN KELAS JUGA PRESTASI

Ilah Armilah,S.E.

SMP Islam Ibnu Rusyd Kotabumi

CGP Angkatan 3 Kabupaten Lampung Utara

1.        Latar Belakang

SMP Islam Ibnu Rusyd Kotabumi merupakan Lembaga Pendidikan formal yang berada di bawah naungan Yayasan Perguruan Islam Ibnu Rusyd. Terletak di Jl. Soekarno-Hatta No.103 Kotabumi. Masjid Raya Ibnu Rusyd yang menjadi kebanggan  senantiasa ramai dikunjungi orang yang ingin melaksanakan sholat. Dan karena posisinya bersebrangan dengan Rumah Sakit Umum Handayani, Masjid Raya Ibnu Rusyd juga sering menjadi tempat istirahat atau bertemunya  keluarga pasien.

Untuk masuk ke area  SMP islam Ibnu Rusyd pengunjung harus masuk melalui pintu gerbang dan melewati beberapa ruang kelas TK dan SD Islam Ibnu Rusyd. Karena lingkungan SMP bergabung dengan TK dan SD, maka tak heran jika para orang tua/wali TK dan SD ikut melihat-lihat lokasi SMP. Bisa dibayangkan , jika koridor ataupun kelas SMP kotor tentunya akan menjadi perhatian banyak orang. 

Untuk memberikan kenyamanan, keindahan, dan kesan baik perlu adanya budaya positif yang akan memunculkan rasa perduli dan kebutuhan akan kelas yang bersih.

Dengan kelas yang bersih, murid bisa melakukan sholat di dalam kelas, bisa duduk-duduk santai saat penat duduk di kursi, dan tentunya ruangan kelas yang bersih membuat betah para penghuninya.

Namun saat ini, baik murid ataupun guru yang masuk ke ruang kelas masih mendapati lantai kelas yang kotor, sehingga guru  perlu selalu mengingatkan akan pentingnya menjaga kebersihan kelas, terutama di jam pertama. Untuk membersihkan kelas biasanya murid-murid melakukannya sambil bercanda, sehingga menyita  waktu jam pelajaran pertama.

Alangkah senangnya jika saat jam pelajaran pertama di mulai murid-murid sudah  siap mengikuti kegiatan pembelajaran di dalam kelasnya masing-masing dalam keadaan kelas yang bersih. Dan untuk mewujudkan angan-angan ini saya mengambil Judul  untuk Modul Budaya Positif ini yaitu “Kebersihan Kelas Juga Prestasi”.

Saya bukan wali kelas sehingga tidak memiliki kelas khusus untuk saya bina. Namun di kelas 8B saya mengajar dua mapel di hari yang sama, maka saya akan mengambil sampel kelas 8B sebagai kelas khusus aksi nyata.

 

2.      Tujuan

Sesuai dengan latar belakang yang mendasari Tindakan untuk aksi nyata yang menjadi alas an saya memilih Judul Modul Budaya Positif ini “Kebersihan Kelas Juga Prestasi”, diharapkan:

a.      Warga sekolah umumnya dan khususnya warga  dalam kelas memahami bahwa Prestasi bisa didapatkan dari banyak aspek, diantaranya  adalah dari kebersihan kelas sehingga muncul motivasi untuk berprestasi.

b.      Warga sekolah menyadari bahwa Kelas yang bersih adalah kebutuhan.

c.       Mewujudkan warga sekolah yang berkarakter seperti Profil pelajar pancasila

 

3.      Tolok Ukur

Untuk menilai keberhasilan tindakan untuk aksi nyata ini  adalah dengan melihat sejauh mana motivasi akan kebutuhan kelas yang bersih dapat diwujudkan. Jika warga sekolah umumnya dan khususnya warga kelas sudah mampu menjaga kebersihan kelasnya tanpa diingatkan guru apalagi disuruh, bisa dikatakan Tindakan aksi nyata ini 100% berhasil. Namun mungkin akan butuh waktu lebih dari 4 pekan untuk bisa 100% berhasil. Sudah sewajarnya jika dalam setiap tahapan pencapaian ke arah 100% berhasil, tetap diberikan apresiasi  atas niat baik dan usaha warga sekolah/warga kelas dalam menciptakan kelas yang bersih.

4.      Lini masa tindakan yang dilakukan

No.

Tindakan

Waktu Pelaksanaan

Keterangan

1.

Membagikan bibit tanaman sayuran di kelas 8

Oktober pekan ke-3

Bibit kangkung/ buncis/bayam

2.

Mengecek kebersihan kelas dan lingkungan sekitar kelas

Mulai Pekan ke-3 Oktober- pekan ke-3 November

Hari Kamis dan atau Jum’at .

3.

Mendokumentasikan kebersihan kelas dan kegiatan yang dilakukan dalam kelas yang khusus sebagai dampak positif kelas yang bersih.  Misalnya : sholat di kelas, makan/minum sambal duduk-duduk di lantai/teras kelas, mengerjakan tugas di lantai /teras kelas, duduk santai di lantai sambil bercengkrama dengan teman.

Mulai pekan ke-3 Oktober- pekan ke-3 November

Foto atau video

4.

Meminta tanggapan perwakilan warga sekolah ( 1 atau 2 murid , 1 atau 2 guru dan kepala sekolah)

Pekan ke-1 November dan pekan ke-3 November

Bisa melalui kuisioner ataupun wawancara/tanya jawab/observasi

5.

Tolak Ukur keberhasilan tindakan

Pekan ke-2 dan 3 November

Bisa melalui observasi dan atau kuisioner

6.

Apresiasi atas kebersihan kelas

Mulai pekan ke-3 Oktober

Apresiasi bisa dilakukan oleh siapapun unsur warga sekolah

 

5.      5. Dukungan yang dibutuhkan

Dukungan dari warga sekolah umumnya dan warga kelas khususnya baik Kerjasama langsung ataupun tidak langsung dalam mencapai tujuan Tindakan aksi nyata budaya positif ini.

Dokumentasi pendukung Kegiatan Aksi Nyata : 

1. Diseminasi budaya positif melalui Vicon bersama rekan CGP dan rekan sejawat.



https://drive.google.com/file/d/1JeQ436-FO_LDqGKelUYvScuwzb_dx34K/view?usp=sharing

https://drive.google.com/file/d/1L4H8UV5CULPqYOExeSKyJourr67PzRgS/view?usp=sharing

https://drive.google.com/file/d/1YO9WSDDyRlCQV_rCUE-b1GfHiL_V3Oim/view?usp=sharing

2. Komunitas Parktisi di sekolah



https://drive.google.com/file/d/1UF3DI1ndObxrjCsHklj6M-dIl1XLqReL/view?usp=sharing

3. Kesepakatan kelas 8 B SMP Islam Ibnu Rusyd Kotabumi




Kehidupan Masa Pra Aksara di Indonesia

Periodisasi zaman praaksara   Periodisasi zaman pra aksara dapat dibedakan berdasarkan geologi (ilmu yang mempelajari bebatuan)  ( Diambil d...