Jumat, 27 Agustus 2021

1.1.a.9. Koneksi Antar Materi - Kesimpulan dan Refleksi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara

 


PEMIKIRAN KI HADJAR DEWANTARA

Oleh : Ilah Armilah,S.E.


Asas Pendidikan Ki Hadjar Dewantara

Ki Hadjar Dewantara (KHD) membedakan kata Pendidikan dan Pengajaran dalam memahami arti dan tujuan Pendidikan. Menurut KHD, pengajaran (onderwijs) adalah bagian dari Pendidikan. Pengajaran merupakan proses Pendidikan dalam memberi ilmu atau berfaedah untuk kecakapan hidup anak secara lahir dan batin. Sedangkan Pendidikan (opvoeding) memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Jadi menurut KHD (2009),  “pendidikan dan pengajaran merupakan usaha persiapan dan persediaan untuk segala kepentingan hidup manusia, baik dalam hidup bermasyarakat maupun hidup berbudaya dalam arti yang seluas-luasnya”.

 

Pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan dalam masyarakat. KHD memiliki keyakinan bahwa untuk menciptakan manusia Indonesia yang beradab maka pendidikan menjadi salah satu kunci utama untuk mencapainya. Pendidikan dapat menjadi ruang berlatih dan bertumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan yang dapat diteruskan atau diwariskan.

 

 Dasar-Dasar Pendidikan

Ki Hadjar menjelaskan bahwa tujuan pendidikan yaitu: "menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh sebab itu, pendidik itu hanya dapat  menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan  tumbuhnya kekuatan kodrat anak”

 

Dalam menuntun laku dan pertumbuhan kodrat anak, KHD mengibaratkan peran pendidik seperti seorang petani atau tukang kebun. Anak-anak itu seperti biji tumbuhan yang disemai dan ditanam oleh pak tani atau pak tukang kebun di lahan yang telah disediakan. Anak-anak itu bagaikan bulir-bulir jagung yang ditanam. Bila biji jagung ditempatkan di tanah yang subur dengan mendapatkan sinar matahari dan pengairan yang baik maka meskipun biji jagung adalah bibit jagung yang kurang baik (kurang berkualitas) dapat tumbuh dengan baik karena perhatian dan perawatan dari pak tani.  Demikian sebaliknya, meskipun biji jagung itu disemai adalah bibit berkualitas baik namun tumbuh di lahan yang gersang dan tidak mendapatkan pengairan dan cahaya matahari serta ‘tangan dingin’ pak tani, maka biji jagung itu mungkin tumbuh namun tidak akan optimal.

 

Dalam proses ‘menuntun’ anak diberi kebebasan namun pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang ‘pamong’ dapat memberikan ‘tuntunan’ agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar.

KHD juga mengingatkan para pendidik untuk tetap terbuka namun tetap waspada terhadap perubahan-perubahan yang terjadi, “waspadalah, carilah barang-barang yang bermanfaat untuk kita, yang dapat menambah kekayaan kita dalam hal kultur lahir atau batin. Jangan hanya meniru. Hendaknya barang baru tersebut dilaraskan lebih dahulu”. KHD menggunakan ‘barang-barang’ sebagai simbol dari tersedianya hal-hal yang dapat kita tiru, namun selalu menjadi pertimbangan bahwa Indonesia juga memiliki potensi-potensi kultural yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar.

 

Kodrat Alam dan Kodrat Zaman

KHD menjelaskan bahwa dasar Pendidikan anak berhubungan dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam berkaitan dengan “sifat” dan “bentuk” lingkungan di mana anak berada, sedangkan kodrat zaman berkaitan dengan “isi” dan “irama”

KHD mengelaborasi Pendidikan terkait kodrat alam dan kodrat zaman sebagai berikut

“Dalam melakukan pembaharuan yang terpadu, hendaknya selalu diingat bahwa segala kepentingan anak-anak didik, baik mengenai hidup diri pribadinya maupun hidup kemasyarakatannya, jangan sampai meninggalkan segala kepentingan yang berhubungan dengan kodrat keadaan, baik pada alam maupun zaman. Sementara itu, segala bentuk, isi dan wirama (yakni cara mewujudkannya) hidup dan penghidupannya seperti demikian, hendaknya selalu disesuaikan dengan dasar-dasar dan asas-asas hidup kebangsaan yang bernilai dan tidak bertentangan dengan sifat-sifat kemanusiaan” (Ki Hadjar Dewantara, 2009, hal. 21)

https://katadata.co.id/ariayudhistira/infografik/6014cb89a6eb7/indonesia-didominasi-milenial-dan-generasi-z
KHD hendak mengingatkan pendidik bahwa pendidikan anak sejatinya melihat kodrat diri anak dengan selalu berhubungan dengan kodrat zaman. Bila melihat dari kodrat zaman saat ini, pendidikan global menekankan pada kemampuan anak untuk memiliki Keterampilan Abad 21 dengan melihat kodrat anak Indonesia sesungguhnya. KHD mengingatkan juga bahwa pengaruh dari luar tetap harus disaring dengan tetap mengutamakan kearifan lokal budaya Indonesia. Oleh sebab itu, isi dan irama yang dimaksudkan oleh KHD adalah muatan atau konten pengetahuan yang diadopsi sejatinya tidak bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. KHD menegaskan juga bahwa didiklah anak-anak dengan cara yang sesuai dengan tuntutan alam dan zamannya sendiri.



  Budi Pekerti

 Menurut KHD, budi pekerti, atau watak atau karakter merupakan perpaduan antara gerak pikiran, perasaan dan kehendak atau kemauan sehingga menimbulkan tenaga. Budi pekerti juga dapat diartikan sebagai perpaduan antara Cipta (kognitif), Karsa (afektif) sehingga menciptakan Karya (psikomotor). Sedih merupakan perpaduan harmonis antara cipta dan karsa demikian pula Bahagia.

Lebih lanjut KHD menjelaskan, keluarga menjadi tempat yang utama dan paling baik untuk melatih pendidikan sosial dan karakter baik bagi seorang anak. Keluarga merupakan tempat bersemainya pendidikan yang sempurna bagi anak untuk melatih kecerdasan budi-pekerti (pembentukan watak individual). Keluarga juga menjadi ruang untuk mempersiapkan hidup anak dalam bermasyarakat dibanding dengan pusat pendidikan lainnya.

http://yayasanpulih.org/2020/04/komitmen-pengasuhan-sehat-
di-tengah-masa-pandemi/
Alam keluarga menjadi ruang bagi anak untuk mendapatkan teladan, tuntunan, pengajaran dari orang tua. Keluarga juga dapat menjadi tempat untuk berinteraksi sosial antara kakak dan adik sehingga kemandirian dapat tercipta karena anak-anak saling belajar antar satu dengan yang lain dalam menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi. Oleh sebab itu, Peran orang tua sebagai guru, penuntun dan pemberi teladan menjadi sangat penting dalam pertumbuhan karakter baik anak.


Pandangan Ki Hadjar Dewantara tentang Belajar 

Pandangan Ki Hadjar Dewantara tentang belajar nampak pada konsep mengenai Tri Pusat Pendidikan, bahwa anak didik tidak semata-mata hanya belajar di sekolah tetapi juga dalam keluarga dan masyarakat (dalam alam pemuda). Pendidikan alam keluarga akan mendidik anak-anak dengan sebaik mungkin yang meliputi jasmani dan rohani. Keadaan keluarga sangat mempengaruhi perilaku pendidikan, terutama tolong-menolong dalam keluarga, menjaga saudara yang sakit, kebersamaan dalam menjaga kebersihan, kesehatan, kedamaian dan kebersamaan dalam berbagai persoalan yang sangat diupayakan dalam keluarga. 

Di dalam alam keluarga orangtua dapat menanamkan segala benih kebatinan yang sesuai dengan kebatinannya sendiri, ke dalam jiwa anak. Ini adalah hak orangtua yang paling utama dan tidak boleh dicegah orang lain, jadi orangtua berperan sebagai guru (pemimpin laku adab), sebagai pengajar (pemimpin kecerdasan serta pemberi ilmu pengetahuan) dan menjadi contoh laku sosial. 

Selanjutnya dalam alam perguruan, institusi ini berkewajiban mengusahakan kecerdasan pikiran (perkembangan intelektual) serta memberikan ilmu pengetahuan. Menurut Ki Hadjar Dewantara, memaparkan agar pendidikan alam perguruan tidak hanya mementingkan intelek sehingga bersifat zakelijk atau tak berjiwa, yang akan berpengaruh kuat terhadap tumbuhnya egoisme dan materialism, maka Ki Hadjar Dewantara sangat menggarisbawahi pendapat Pestalozzi yang mengatakan bahwa pendidikan intelektual harus disesuaikan dengan kodrat alam dan pendidikan keluarga.

Kesempurnaan pendidikan dalam masyarakat akan terwujud apabila orang-orang yang berkepentingan, yaitu orangtua, tokoh Henricus Suparlan 63 tokoh masyarakat, guru-guru dengan anak atau pemuda, bersatu paham, misal dalam bidang agama, bidang politik, dalam kebangsaan, sehingga sistem Tri Pusat Pendidikan itu akan tercapai.

Terwujudnya Tri Pusat Pendidikan akan melahirkan calon-calon pemimpin bangsa ini yang berkarakter Ing Ngarsa Sung Tulodho, Ing Madya Mangun Karsa dan Tut Wuri Handayani. Para pemimpin yang diidealkan Ki Hadjar Dewantara ini di masa depan akan menghasilkan pemimpin yang tangguh karena merupakan pemimpin yang disiplin terhadap dirinya sendiri maupun terhadap lingkungan masyarakatnya.


 Sebuah Refleksi

Pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang saya kenal melalui kegiatan pendidikan Guru penggerak sebagai calon guru penggerak Angkatan 3 Kabupaten Lampung Utara memberi warna dan perubahan cara pandang guru dan murid.  

Sebelum mempelajari Modul 1.1 Di mana kemerdekaan murid dalam melakukan segala sesuatu sesuai dengan kodrat alam yang dimilikinya menjadi perhatian utama pada pemikiran Ki hadjar yang selama ini terabaikan.  Selama inbi kegiatan pembelajaran lebih merupakan sebuah rutinitas yang menyamaratakan anatara murid satu dengan murid lainnya tanpa membedakan keunikan yang dimiliki masing-masing murid. Selama ini guru lebih banyak menarik murid untuk ikut ke dalam segala aktivitas pembelajaran tanpa memiliki nilai tawar. Itupun mungkin dilakukan guru karena tanggung jawab dan tuntutan kurikulum. Di mana   tujuan pembelajaran di akhir tahun pelajaran selalu diukur dengan nilai-nilai pasti berupa angka pada semua mata pelajaran.   Antara guru dan murid sama-sama menjalani segala aktivitas sesuai peraturan, tanpa nilai tawar apalagi kemerdekaan melakukan segalanya sesuatu minat, bakat, kemauan atau ketertarikan.

 Setelah mempelajari Modul 1.1  Saya jadi tahu bahwa penting untuk memperhatikan minat, bakat, kemampuan murid atau dengan kata lain keunikan setiap murid dalam kegiatan pembelajaran. Memanusiakan manusia dengan berbalut kemerdekaan dalam belajar dan bermain, dengan menanamkan budi pekerti sesuai kodrat alam dan kodrat zaman.

Proses pendidikan yang memerdekaan, tetap memperhatikan kodrat alam dan zaman dalam membentuk karakter demi terwujudnya manusia yang beriman dan bertakwa dengan karakter profil pelajar pancasila yang bermartabat dan bermanfaat bagi dirinya, agamanya, masyarakat, bangsa dan negara.



Rencana Tindak Lanjut

Saya akan mencoba melakukan praktik baik terkait pemikiran Ki Hadjar Dewantara di sekolah tempat saya mengajar umumnya dan khususnya di kelas-kelas dimana saya mengajar di sana.  Praktik baik saya mulai dari memberi tenggat waktu yang menyesuaikan kebutuhan materi dan murid, memberikan kebebasan pada murid untuk mengerjakan tugas sesuai kemampuan dan kesukaan, juga membicarakan hal-hal yang disukai murid-murid seperti permainan,  bernyanyi ,atau menonton cuplikan sebuah  film motivasi di sela-sela kegiatan pembelajaran.  membuat suasana belajar menjadi lebih meriah dan menggembirakan.

Terima kasih...


Sumber :

1. https://media.neliti.com/media/publications/85340-ID-filsafat-pendidikan-ki-hadjar-dewantara.pdf

2. https://erinstitute.id/2020/11/04/refleksi-diri-tentang-pemikiran-ki-hadjar-dewantara/
3. https://www.guruyung.web.id/2021/05/konsep-pendidikan-menurut-ki-hadjar.html



Rabu, 10 Maret 2021


Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuuh....

Mapel : Produk Kreatif dan Kewirausahaan

Kelas 12 SMKN 1 Kotabumi

Tema : Promosi Pemasaran dan Pemasaran  Produk Usaha 

Guru : Ilah Armilah,S.E.


Daftar Siswa Yang telah Membuat Promosi Usaha di Blog dan IG pribadi :


1. https://alpiahskincare.blogspot.com/ 

2. https://indrsptni.blogspot.com/

3. https://hijabpashminadiamon.blogspot.com/

4. https://cakesmutiara.blogspot.com/

5. https://nndiajunitaaurelia.blogspot.com/

6. https://cahgeprekkotabumi.blogspot.com/

7. https://syifachairaninurrahma354.blogspot.com/

8. https://triarstni75.blogspot.com/

9. https://kotabumiboba.blogspot.com/


Malam ini cukup ini dulu ya...

Terima Kasih..

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuuh.... 




Senin, 30 November 2020

LAWAN KEKERASAN BERBASIS GENDER, DIMULAI DARI RUMAH

        Sahabat karakter dimanapun anda berada, seperti yang kita tahu kekerasan berbasis gender sudah ada sejak lama. Saking lamanya, masyarakat kita menganggap kekerasan berbasis gender adalah hal biasa dan noemal terjadi daalam kehidupan. Namun seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi kini orang sudah mulai mengetahui dan menyadari akan bahaya dan dampak yang ditimbulkan dari kekerasan ini. Dan untuk menghindari dampak dan bahaya yang menyertai tindak kekerasan berbasis gender, ada baiknya kita melakukan pencegahan lebih awal, dimulai dari diri kita dan lingkungan terkecil kita yaitu keluarga.



        Dalam video ini disampaikan bahwa "Kekerasan berbasis gender adalah istilah yang digunakan untuk berbagai macam bentuk tindakan kekerasan yang membahayakan atau mengakibatkan penderitaan pada seseorang yang dilakukan berdasarkan perbedaan sosial termasuk laki-laki dan perempuan yang dapat mengakibatkan penderitaan secara fisik, seksual, psikologis dan atau penelantaran termasuk berupa ancaman, paksaan, dan berbagai bentuk lainnya yang merampas kebebasan seseorang baik di ruang publik atau umum maupun di dalam lingkungan kehidupan pribadi. dI mana kasus kekerasan berbasis gender selama masa Pandemi Covid-19 , meningkat.

        Selama masa Pandemi Covid-19, di mana hampir seluruh anggota keluarga berkumpul dan berinteraksi di dalam rumah, sangat rentan akan terjadinya tindakan kekerasan. Perbedaan pendapat, kebiasaan, ataupun perbedaan kesukaan kadang berujung pada keributan di dalam rumah yang memungkinkan terjadinya tindakan kekerasan  berbasis gender, tidak terkecuali rumah saya.
        
        Semenjak bulan maret 2020 rumah saya kembali ramai. Dua anak yang sedang  kuliah di Yogyakarta pulang  dan melakukan perkuliahan secara jarak jauh. Sementara di rumah ada tiga anak saya  lainnya yang masih duduk di bangku SMK, SMP, dan SD yang  juga melakukan pembelajaran jarak jauh.  Bisa dibayangkan, bagaimana ramainya rumah  saat semua anak berkumpul.

             Rumah saya adalah rumah tua dengan 3 kamar tidur yang kami tempati. Satu kamar untuk kedua putra saya, satu kamar untuk ketiga putri saya, dan satu kamar lagi untuk saya dan suami. masing-masing anak kami memiliki keunikan tersendiri.  Kegemaran mulai dari warna kesukaan, makanan kesukaan, sampai pada aktivitas kesukaan yang berbeda dan  terkadang merepotkan , karena hampir setiap hari ada saja keributan yang terjadi.  Seperti  misalnya soal tempat duduk yang diincar oleh lebih dari satu anak, kadang ribut dan berebut.
Yang paling sering terjadi adalah keributan karena sang kakak menyuruh adik-adiknya sementara si adik tidak mau disuruh, dan terkadang terdengar kata-kata yang sedikit memaksa dan bernada tinggi. Atau anak laki-laki merasa tugas memasak dan mencuci adalah tugas anak perempuan, sehingga mereka hanya tinggal menikmati hasil.

           Lalu, bagaimana cara kami  mencegah terjadinya kekerasan berbasis gender  di dalam rumah selama masa Pandemi ? berikut akan saya sampaikan beberapa perbuatan baik yang kami lakukan di dalam rumah selama masa pandemi Covid-19 untuk menghindari tindakan kekerasan berbasis gender.

         Ketika  masa pandemi berlalu beberapa waktu, saya melihat kembali seluruh bagian dari rumah saya. menatap lama tempat di mana anak-anak saya suka berebut "poisi".  Memikirkannya terlintas ide untuk mengubah tatanan rumah, membiarkan anak-anak mengatur sendiri kamarnya dan mengecat ulang kembali kamar sesuai selera.  Mereka punya ide, mereka sendiri yang mengerjakan.  Begitupun dengan makanan, saya membiarkan mereka memilih dan memasak apa yang mereka sukai.  Terkadang mereka mengerjakan tugas berbarengan, misal saat mencuci pakaian ;anak tertua (laki-laki) dengan anak keempat (perempuan), anak ketiga (laki-laki) dengan anak kelima (perempuan), untuk memaksimalkan kapasitas mesin cuci mereka jadikan satu cucian mereka, sang kakak yang mencuci dan saat menjemur, adik perempuannya yang mengerjakan. Sebagai orang tua kami hanya menyediakan apa yang dibutuhkan, memberi jalan, dan mengarahkan..




Dinding kamar anak perempuan, hasil desaian dan mengecat anak perempuan


        Sekarang hampir tidak terdengar lagi ribut atau rebutan sesuatu di rumah. Masing-masing melaksanakan tugas, bekerja sama dan bertanggung jawab atas pilihannya tanpa membedakan ini  pekerjaan perempuan atau laki-laki.  Dalam rumah, susana lebih dapat terkendali, tenang, dan yang paling menyenangkan adalah anak-anak semakin dekat, akur,  dan saling menghargai  satu sama lain. 

Kamis, 19 November 2020

Pembelajaran Jarak Jauh di tengah Pandemi Covid-19

Pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung sejak awal maret 2020 menyebabkan pembelajaran di lakukan secara jarak jauh, memasuki bulan kesembilan. Rasa jenuh sudah mulai menyerang, baik siswa ataupun guru. Banyak cara sudah dilakukan untuk mengurangi rasa jenuh atau bosan dalam pembelajaran jarak jauh ini, namun tetap saja rasa itu masih ada. Lahirnya gerakan merdeka belajar dan RPP 1 lembar memberi ruang kepada para guru , di mana guru diberi kebebasan untuk menbuat Rencana Perangkat pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi di sekolah masing-masing. Pembelajaran yang mempriorotaskan KI-KD yang menjadi prasyarat pembelajaran di tahap berikutnya ataupun pembelajaran yang dikaitkan dengan kecakapan hidup dan informasi seputar kesehatan terutama terkait Covid-19. Namun tetap saja rasa bosan itu ada... Bagaimana mengatasi kebosanan di dalam pembelajaran jarak jauh di masa Pandemi ini? apa saja yang bisa dilakukan untuk mengurangi kebosanan itu? Dan bagaimana pembentukan karakter siswa untuk mewujudkan profil pelajar pancasila di masa PJJ ?

Jumat, 18 September 2020

Masa pendemi covid-19 membuat semua serba jarak jauh. Kebaikan apa yang dapat dilakukan saat ini , lakukanlah. Karena untuk masa depan serasa masih jauh dari angan. Virus corona yang menyebar dan tidak terkendali, ditambah masyarakat yang belum sepenuhnya memahami pentingnya mematuhi protokol kesehatan covid-19, menyebabkan penambahan jumlah positif covid-19 bertambah terus setiap hari. Kita hanya bisa menjaga diri dan keluarga kita agar tidak ikut-ikutan ke luar rumah sekehendak hati dan tidak mengindahkan protokol kesehatan.

Kehidupan Masa Pra Aksara di Indonesia

Periodisasi zaman praaksara   Periodisasi zaman pra aksara dapat dibedakan berdasarkan geologi (ilmu yang mempelajari bebatuan)  ( Diambil d...